Memaafkan bukan berarti MELUPAKAN
Malam makin larut, Masih dengan secangkir Teh panas dan wacana yang tak kalah panasnya di media sosial saat ini. Apalagi kalau bukan tentang wacana seputar Sea Games. Sebelumnya jangan bertanya kenapa bukan kopi tapi Teh ?? Hehehe sudahlahh nanti diceritakan disesi berikutnya.
Jika kamu pengguna media sosial yang masuk dalam kategori SETIA, pastilah tau baru-baru ini dikejutkan dengan keluarnya buku pedoman Sea Games oleh tuan rumah pelaksana kegiatan (MALAYSIA). Hal ini mengundang banyak reaksi dari kalangan masyarakat biasa hingga pemerintah RI karena didalam buku panduan itu ada salah satu bendera Negara yang diberi keterangan dengan nama INDONESIA. Setahu saya kalau bendera Indonesia itu MERAH PUTIH, tapi kenapa kok malah PUTIH MERAH. Bukannya kalau Putihnya diatas Merahnya dibawah itu benderanya Negara POLANDIA. Tapi pertanyaannya apa betul peserta SEA GAMES ada juga yang diluar Asia Tenggara ?? Kadang membingungkan, sekk yooo ta minum teh nya dulu keburu dingin.
Mari lanjutkan, kita ikuti arus jalannya kepulan asap Lucky Strike, biar gak tersesat. Maaf selera kita beda om, Hehehehe
Kini teriakan Nasionalisme kembali menggema, apalagi RI baru beberapa hari kemarin merayakan HUT Kemerdekaan yang ke 72. Mungkin karena dengan kejadian ini sebagian dari KITA merasa di hina sebagai sebuah bangsa dan negara yang dengan susah payahnya telah berjuang memerdekakan Negara yang kita cintai ini. Sehingga ada yang membalas itu dengan hal serupa di media sosial, dengan membuat tulisan meme pada bendera Negara yang bersangkutan (Malaysia), ada yang komentar dengan nada sinis, marah, kesal, bahkan ancaman dan masih buanyakkk lagi.
Wes ora opo, maafkanlah selagi pihak Malaysia mengakui kesalahan itu. Toh memaafkan bukan berarti MELUPAKAN. Namun dengan catatan tarik semua buku pedoman yang sudah beredar, dan buat yang baru. Maaf ini bukan ancaman, wkwkwkw
Aku sih sakit hati juga, tapi jika ingin membalas itu cukup dengan tunjukkan bahwa INDONESIA bisa pulang dengan membawa medali emas sebanyak-banyaknya, walaupun hasil emas kita juga lebih banyak yang keluar, ehhh keceplosannnn. Wkwkwkwk. Maaf habis Rokoknya, gak fokus jadinya.
Tehnya juga sudah dingin, semoga wacana ini juga jangan sampai lupa caranya dingin.
SEMANGAT INDONESIA,
#KITA JUARA
#RenunganPagi
SabdaKata
Kata adalah senjata. Yukk mari budayakan menulis tanpa takut menyakiti atau tersakiti.
Kamis, 24 Agustus 2017
MARI NGOPI
MARI NGOPI ..!!!
Sebelumnya maaf, yang saya maksud NGOPI disini bukanlah aktifitas duduk santai di kedai dengan suguhan secangkir rasa yang biasa dilakukan banyak orang pada umumnya. Kalau lebih tepatnya mungkin memaparkan atau mendiskusikan sesuatu entah konsep atau teori dengan pendekatan yang ilmiah, intinya NGOPI atau Ngobrol Pintar.
Segera pesankan minum, agar obrolan ini tidak cepat dingin layaknya suhu angin malam diluar sana.
" Mas, masih dengan pesanan yang sama malam ini..! Dia mengangguk, artinya sudah paham maksudku. Hehehee
Tanpa tema, bingung mau bahas apa.
Belum selesai pikiranku bergumam, terdengar di samping kananku ada sekelompok orang cerdas sedang membahas soal SISTEM PENDIDIKAN. Pikirku menarik kalo dibahas dengan melihat INDONESIA saat ini. Tapi setelah kusedot kopiku, ada suara yang berbisik : "untuk apa kau membahas sistem, sedang kau sendiri menjadi produk dari sistem itu"
Wahh kalau begini jadinya, rumit dalam logika, samar dalam indra, dilema dalam rasa.
Sudahlah, kubakar dulu rokokku..!!
Bicara pendidikan tak luput dari bicara memanusiakan, mungkin ini inti dari tafsiran bahasa para pakar-pakar pendidikan. Memanusiakan bukan hanya sekedar mengajari dan lupa caranya memberi contoh, harusnya lebih dari itu. Simplenya mungkin seperti itu.
Kalau soal sistem saya serahkan kepada yang berwenang, toh dia lebih paham INDONESIA hari ini, logikanya kalau gak paham kenapa dipercaya untuk memgemban amanah ini. Hanya saja saya teringat salah satu judul bukunya Munif Khatib "SEKOLAHNYA MANUSIA". Dari judul buku ini mungkin mengisyaratkan kepada kita bahwa yang namanya pendidikan adalah hak'nya manusia, atau dalam artian lain bahwa semua orang berhak mengenyam yang namanya PENDIDIKAN. Agar apa ?? Agar tujuan mencerdaskan kehidupan bangsa bisa terwujud. Bukan menjadikan pendidikan sebagai ajang bisnis untuk kepentingan kelompok Kapitalis.
Kalo ngomong kapitalis, kok ngerii yaa..! Hehehe
Eta maafkanlah, bukan bermaksud menyinggung.
Tapi intinya adalah berikan kesempatan kepada GENERASI BANGSA untuk mengekspresikan dan mengasah potensi dirinya serta memperoleh lebih banyak ilmu dengan PENDIDIKAN yang baik.
CERDASKAN INDONESIA TANPA KOMERSIALISASI PENDIDIKAN
Sebelumnya maaf, yang saya maksud NGOPI disini bukanlah aktifitas duduk santai di kedai dengan suguhan secangkir rasa yang biasa dilakukan banyak orang pada umumnya. Kalau lebih tepatnya mungkin memaparkan atau mendiskusikan sesuatu entah konsep atau teori dengan pendekatan yang ilmiah, intinya NGOPI atau Ngobrol Pintar.
Segera pesankan minum, agar obrolan ini tidak cepat dingin layaknya suhu angin malam diluar sana.
" Mas, masih dengan pesanan yang sama malam ini..! Dia mengangguk, artinya sudah paham maksudku. Hehehee
Tanpa tema, bingung mau bahas apa.
Belum selesai pikiranku bergumam, terdengar di samping kananku ada sekelompok orang cerdas sedang membahas soal SISTEM PENDIDIKAN. Pikirku menarik kalo dibahas dengan melihat INDONESIA saat ini. Tapi setelah kusedot kopiku, ada suara yang berbisik : "untuk apa kau membahas sistem, sedang kau sendiri menjadi produk dari sistem itu"
Wahh kalau begini jadinya, rumit dalam logika, samar dalam indra, dilema dalam rasa.
Sudahlah, kubakar dulu rokokku..!!
Bicara pendidikan tak luput dari bicara memanusiakan, mungkin ini inti dari tafsiran bahasa para pakar-pakar pendidikan. Memanusiakan bukan hanya sekedar mengajari dan lupa caranya memberi contoh, harusnya lebih dari itu. Simplenya mungkin seperti itu.
Kalau soal sistem saya serahkan kepada yang berwenang, toh dia lebih paham INDONESIA hari ini, logikanya kalau gak paham kenapa dipercaya untuk memgemban amanah ini. Hanya saja saya teringat salah satu judul bukunya Munif Khatib "SEKOLAHNYA MANUSIA". Dari judul buku ini mungkin mengisyaratkan kepada kita bahwa yang namanya pendidikan adalah hak'nya manusia, atau dalam artian lain bahwa semua orang berhak mengenyam yang namanya PENDIDIKAN. Agar apa ?? Agar tujuan mencerdaskan kehidupan bangsa bisa terwujud. Bukan menjadikan pendidikan sebagai ajang bisnis untuk kepentingan kelompok Kapitalis.
Kalo ngomong kapitalis, kok ngerii yaa..! Hehehe
Eta maafkanlah, bukan bermaksud menyinggung.
Tapi intinya adalah berikan kesempatan kepada GENERASI BANGSA untuk mengekspresikan dan mengasah potensi dirinya serta memperoleh lebih banyak ilmu dengan PENDIDIKAN yang baik.
CERDASKAN INDONESIA TANPA KOMERSIALISASI PENDIDIKAN
Langganan:
Postingan (Atom)